BERFIKIR RADIKAL TENTANG ISLAM

Berfikir secara mendalam menurut harun yahya, dianggap oleh kebanyakan orang sebagai sesuatu yang memberatkan. Karena beratnya, maka pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan filosof. sedangkan orang-orang yang tidak mau berfikir secara mendalam, hidupnya dalam kelalaian yang sangat. Tidak menghiraukan tujuan penciptaan dirinya maupun tidak menghiraukan kebenaran ajaran agama. Penyebabnya diantaranya karena : kelumpuhan mental akibat mengikuti kebanyakan orang, kemalasan mental, adanya anggapan bahwa berfikir secara mendalam tidaklah baik, terlena oleh kehidupan sehari-hari dan melihat segala sesuatu dengan penglihatan biasa (sekedar melihat tanpa merenung). Oleh karenanya yahya lalu bersimpulan : "Wajib atas manusia untuk menghilangkan segala penyebab yang menghalangi mereka berfikir.
Hal-hal yang selayaknya difikirkan secara mendalam adalah segala sesuatu yang dijumpai maupun yang dialami sepanjang hari, Misalnya ketika bangun tidur , dapat digunakan berfikir secara mendalam, ternyata masih diberi kesempatan berbuat kebaikan. Andai harus mati, bagaimana mungkin sanggup mempertanggung jawabkan dosa dihadapanny, sementara api neraka sebesar jarum bisa menghanguskan dunia dan seisinya.
Berfikir secara mendalam dapat pula dilakukan ketika menjumpai beberapa karakteristik tubuh yang beraneka, Ketika melihat mobil jenazah yang melintas dijalan, ketika melihat kejahatan pembunuhan dan perampokan, ketika melihat terjadinya bencana alam, dan seterusnya. Secara jelas dan terperinci serta didukung fakta – fakta yang ada dan argument yang rasional- ilmiah dapat disimak dalam bukunya “Deep Thinking : bagaimana seorang muslim berfikir”.
Ulasan buku tersebut, kiranya masih kurang mendalam dan perlu dilengkapi. Misalnya, perihal makna islam itu sendiri yang artinya selamat. Selamat yang dimaksud yang bagaimana ? menurut siapa ? bagaimana Kriterianya ?. Sementara telah disabda Nabi SAW bahwa dari sekian banyak golongan atau aliran yang ada, hanya satu yang benar. Yang manakah gerangan ?
Islam “yang benar”
Semua umat Islam sependapat bahwa islam yang benar adalah yang mengikuti sunnah Nabi SAW. Singkatnya Islam yang ditengahnya ada wakilnya Nabi SAW. Wakil yang pertam adalah Sayidina ali bin abu thalib, kemudian dilanjutkan oleh para imam dari keturunan ali sampai kiamat tiba. Keberadaan para wakil (para imam) tersebut adalah bagaikan perahu nabi Nuh yang menyelamatkan dari kehancuran—konon penghancurannya adalah tuhan sendiri karena “merusak” utusan-nya.
Sedangkan unsur-unsur yang “seharusnya” di Islamkan, menurut pandangan para wakil Nabi tersebut (pandangan tasawuf) meliputi : jasad, hati, roh dan rasa (unsur utama manusia). Sebagimana perintah-nya “ hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan (Q.S.2 : 208).
Islam jasad (raga) yaitu dengan menjalankan syareat yang telah dituntunkan Nabi SAW dan para wakil – wakilnya. Islamnya hati dengan menjalani tarekat, yaitu hati yang selalu mendzikiri Dzat tuhan. Bagaimana caranya berdzikir, petunjukna “ faslu ahladzdzikkri inkuntum laa ta’lamuuna” (Q.S.21 : 7), tanyakanlah kepada ahli dzikir bila kamu tidak mengetahui bagaimana caranya berdzikir. Ahli dzikir tidak lain adalah Nabi SAW dan para wakil-wakilnya yang al – mahdiyyin.
Islamnya roh adalah rasa hati yang mengintai- intai daya dan kekuatan tuhan. “Perasaan” yang berusaha untuk menyadari dan meyakini bahwa yang mempunyai daya dan kekuatan adalah tuhan sendiri. Seperti yang tersirat dalam Q.S Al Kahfi 39 “…..laa quwwata illa billah”, tidak ada daya kekuatan kecuali datangnya dari allah, milik allah semata. Sedang pada diri hamba keberadaannya bagaikan buih ditengah samudera. Bisa bergerak kesana kemari karena kekuatan ombak samuderanya, bukan karena kekuatan buih itu sendiri.
Islamnya rasa adalah “rasa” yang merasakan Dzat tuhan. Selain wujud diri-nya, dilatih untuk dirasa-rasakan tidak ada. Oleh karenanya, rasa yang sudah masuk islam tidakmengenal lagi yang namanya pegel jibeg susah bungah kecewa bahagia, kedudukan, jabatan maupun harta berlimpah. Rasa berdunianya sudah tidak ada. Rasanya selalu menikmati indah dan nikmatnya mendzikiri dzat tuhan yang maha indah.
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh nabi SAW dan para wakil-wakilnya, dimana beliau-beliau(seolah-olah) tidak mengenal lagi yang namanya kecewa, sengsara, pamrih, was-was dan sebagainya, walaupun dihujat dilecehkan bahkan diancam dengan pedang menmpel dileher. Tidak ada lagi terpengaruh oleh gemerlap dan hiruk pikuknya dunia. Walaupun kenyataannya secara lahir tetap sebagaimana lumrahnya manusia yang hidup di dunia (bekerja, brumah tangga, bermasyarakat, bernegara dan sebagainya). Yang membedakan Cuma hati Roh dan rasanya.
Sebagai penganutnya dan yang mengharapkan Abadan abada disisinya, seharusnya, dapat berfikir secara radikal atas semua ayat-ayat nya. Baik yang Nampak secara lahiriah maupun yang Nampak secara batin. Selanjutnya njegur (memasuki dan menjalani isinya) secara total (kaffah) meliputi jasad, hati roh, dan rasa, sebagaimana yang dilakukan dan dicontohkan oleh utusannya. Serta berani mereformasi secara total pemikiran maupun paradigma tentang islam yang “sebenarnya”, sebagai jawaban : afalaa yatafakkaruuna, afalaa ya’qiluuna. Wallahu a’lam biash-showab.

0 komentar:

Poskan Komentar