Contoh Study Kasus BIMBINGAN SISWA

CONTOH STUDY KASUS


LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN STUDI KASUS
KESULITAN BELAJAR BIDANG STUDI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
DI SMK TELEKOMUNIKASI DARUL ULUM REJOSO



OLEH:
082099
EKONOMI




Telah disetujui oleh,

KepalaSekolah



(Ir. H, Nawawi)
Guru BimbinganKonseling



(Siti Masrikhah,S.Pd)




KATA PENGANTAR
Segala puji Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita Rahmat Nikmat Taufik serta Hidayah-Nya. Sholawat serta salam kami haturkan kepada baginda Rosululloh Muhammad SAW. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikanya laporan ini sehingga praktikan dapat menyelesaikan penyusunan laporan individu yang merupakan salah satu program pengalaman lapangan (PPL) yang diselenggarakan di SMK TELEKOMUNIKASI DU REJOSO PETERONGAN JOMBANG.
            Program Pengalaman Lapangan merupakan suatu kegiatan yang diharuskan bagi semua mahasiswa sebagai wujud aplikasi ilmu-ilmu pendidikan dan media latihan guna memperluas wahana dunia pendidikan yang ada di lingkungan sekolah, baik administrasi, perangkat mengajar dan bimbingan-layanan konseling. Kegiatan tersebut mencakup baik latihan mengajar maupun tugas-tugas kependidikan di luar mengajar secara terbimbing dan terpadu untuk memenuhi persyaratan pembentukan profesi kependidikan.
Laporan ini kami susun berdasarkan observasi dan pengalaman lapangan langsung selama kurang lebih 2 bulan 1 minggu, praktikan terjun langsung dalam kegiatan belajar mengajar  yang diselenggarakan di SMAN 1 KERTOSONO dan ini merupakan pengalaman tersendiri bagi praktikan mengenai dunia pendidikan.
Penulis menyadari tanpa adanya kerja sama antara mahasiswa praktikan, Guru pamong, Bapak/ Ibu Guru, Serta Siswa Siswi SMK TELKOM DU, maka penyusunan studi kasus ini tdak akan berjalan dengan baik. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis dengan hormat menyampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 
           
  1. Dra. Diah Puji Nalibrata,M.Si kepala UPPL STKIP PGRI JOMBANG.
  2. Bu Eva S.Pd selaku dosen pembimbing lapangan STKIP PGRI JOMBANG.
  3. Ir. H.Nawawi  selaku kepala sekolah SMK TELEKOMUNIKASI DU.
  4. Mu’in Hasanudin M.hum selaku Guru Pamong IPS SMK TELEKOMUNIKASI DU.
  5. Seluruh dewan GURU dan staf TU serta KARYAWAN SMK TELEKOMUNIKASI.
  6. Seluruh Siswa / Siswi SMK TELEKOMUNIKASI, Khususnya kelas XI MM2, XI TKJ2, dan XI RPL
  7.  Teman-teman praktikan di SMK TELEKOMUNIKASI DU
Kegiatan ini merupakan bagian dari proses belajar dimana kekurangan adalah awal dari kesempurnaan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah ,maka dari itu praktikan - praktikan mengharap saran dan kritik dari semua pihak sebagai bahan penyempurnaan.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi suatu sumbangsih bagi perkembangan pendidika di Indonesia . amiiin

                                                                                                   Jombang,   29 September 2011
            Praktikan



R. Wakhid Hamzah K.



BAB I
PENDAHULUAN

        
A.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan kehidupan yang cerdas, sebab kualitas kehidupan bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan. Dan menciptakan manusia yang berkualitas, bukanlah tugas yang ringan mengingat siswa sebagai salah satu sumber daya manusia serta sebagai aset nasional yang memiliki potensi yang besar dalam menentukan kehidupan suatu bangsa.
Di samping itu, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi membawa dampak dalam segala bidang, khususnya dunia pendidikan. Dalam bidang pendidikan bimbingan berkembang dengan pesat, yang pada akhirnya mendapat tempat dan peranan yang penting dalam keseluruhan proses pendidikan.
Isi dan praktik pendidikan di Indonesia diturunkan dari aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia yang tersimpulkan di dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta didasarkan pada berbagai aturan pokok dan aturan pelaksanaan sebagaimana termuat di dalam batang tubuh UUD 1945, UU Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dan pedoman teknis penyelenggaraannya. Kegiatan bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari upaya pendidikan, mengacu kepada aspirasi dan cita-cita bangsa serta berbagai aturan dan pedoman tersebut. Bimbingan dan konseling ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui berbagai pelayanan kepada peserta didik bagi pengembangan pribadi dan potensi mereka seoptimal mungkin (Prayitno, 1999:1).
Di sekolah, kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan oleh pejabat fungsional yang secara resmi dinamakan Guru Pembimbing (atau Guru Kelas di sekolah dasar). Dengan demikian, kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan atau pelayanan fungsional yang bersifat profesional atau keahlian dengan dasar keilmuan dan teknologi (Prayitno, 1999:1). Salah satunya adalah SMK TELEKOMUNIKASI DARUL ULUM yang mempunyai peranan sangat penting dalam mengantarkan siswa ke arah kehidupan yang lebih baik, kreatif, inovatif, dan sesuai dengan yang dicita-citakan.
Sebagai seorang pengajar, guru harus bisa berperan sebagai orang tua dan teman bagi siswa, harus mengenal kepribadian siswa, menyadari kekurangan dan kelebihan siswa, serta menyadari bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dan perlu mendapatkan perhatian lebih. Guru dituntut untuk dapat memahami karakteristik siswanya, terutama siswa yang mengalami kesulitan belajar. Untuk dapat memahami serta mengetahui kesulitan belajar yang dialami siswa, maka perlu adanya suatu kegiatan studi kasus yang merupakan salah satu upaya untuk mempelajari siswa dengan metode pengumpulan data yang menyeluruh dan mendalam.
Studi kasus ini dilakukan karena adanya siswa atau klien yang mempunyai kesulitan, khususnya kesulitan dalam belajar dan pergaulan dengan lingkungannya, serta masalah pribadi yang berimbas pada sulitnya memotivasi diri untuk belajar dan memahami materi yang diajarkan oleh guru serta membutuhkan perhatian khusus, khususnya dalam permasalahan kesulitan belajar mata pelajaran bahasa Arab.
Berdasarkan latar belakang di atas, praktikan mencoba untuk membantu siswa klien dalam menyelesaikan masalahnya dan berusaha untuk memotivasi siswa, yang akan dipaparkan dalam Laporan Layanan Bimbingan Siswa yang berjudul Layanan Bimbingan Siswa Ditinjau Dari Tingkat Kesulitan Siswa Dalam Belajar Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar.”

B.       Tujuan Studi Kasus dan Layanan Bimbingan Siswa
Bimbingan dinyatakan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu agar individu tersebut (Gunawan, 1987:41):
1.        Mengerti dirinya dan lingkungannya, yang meliputi pengenalan kemampuan, bakat khusus, minat, cita-cita, dan nilai-nilai hidup yang dimilikinya untuk perkembangan dirinya.
2.        Mampu memilih, memutuskan, dan merencanakan hidupnya secara bijaksana baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan sosial pribadi. Termasuk di dalamnya membantu individu untuk memilih bidang studi, karier, dan pola hidup pribadinya.
3.        Mengembangkan kemampuan dan kesanggupannya secara maksimal.
4.        Memecahkan masalah yang dihadapi secara bijaksana, termasuk memberikan bantuan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk atau sikap hidup yang menjadi sumber timbulnya masalah.
5.        Mengelolah aktivitas kehidupannya, mengembangkan sudut pandangnya, dan mengambil keputusan serta mempertanggungjawabkannya.
6.        Memahami dan mengarahkan diri dalam bertindak serta bersikap sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan.
Kegiatan layanan bimbingan siswa bertujuan untuk mengenal latar belakang pribadi siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar bidang studi, serta memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor penyebabnya dan penetapan kemungkinan pemecahannya, baik cara pencegahan maupun penyembuhannya.

C.      Sasaran Studi kasus
Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Yang biasanya dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah peserta didik yang menjadi suatu problem (problem case); jadi seorang peserta didik membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental.

D.      Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat studi kasus ini adalah di SMK TELEKOMUNIKASI DARUL ULUM REJOSO PETERONGAN, JOMBANG. Dan waktu pelaksanaan studi kasus ini dilakukan di awal pelaksanaan program pengalaman lapangan pada tanggal 10 Juli 2011 hingga akhir sampai tanggal 1 september 2011.

BAB II
LANDASAN TEORI


Dalam bab ini akan dibahas tentang : (1) motivasi belajar, (2) studi kasus, (3) penanganan, (4) strategi belajar mengajar dan penilaian, dan (5) bimbingan dan konseling.
A.    Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata Inggris Motivation yang berarti dorongan, pengalasan, dan motivasi. Jadi, motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya penting dan merupakan suatu kebutuhan.
Motivasi dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Motiv Insting adalah dorongan yang timbul dari diri sendiri, misalnya belajar, ingin menambah ilmu pengetahuan atau ingin berhasil.
2.      Motiv Instrik adalah dorongan yang timbul dari luar dirinya, misalnya ingin mendapatkan pujian.
Motivasi merupakan penggerak dan pendorong seseorang untuk melakuka kegiatan belajar. Karena itu hendaknya diberikan secara kontinyu baik di awal maupun ketika sedang berlangsungnya proses belajar mengajar.
Menurut Dimyati dan Madjiono (2002),
Belajar merupakan suatu tindakan dan perilaku siswa atau individu yang kompleks dengan arti bahwa siswa mengalami perubahan mental dan perilaku dari negatif ke positif.

Belajar juga merupakan kegiatan yang kompleks, karena dengan belajar akan diperoleh suatu hasil belajar yang berupa kapabilitas, yaitu setelah belajar orang akan memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai (Dimyati dan Madjiono 2002:10-11).
Sedangkan menurut Skinner,
Belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar, maka responnya menurun.

Susanto (2000:28) mengatakan bahwa motivasi belajar dapat ditandai dengan 6 (enam) macam tingkah laku atau dimensi, sebagai berikut.
1.        Perhatian, motivasi belajar siswa tinggi jika mereka memusatkan perhatian pada kegiatan belajar lebih besar daripada tingkah laku yang bukan kegiatan belajar.
2.        Waktu belajar, siswa mempunyai motivasi belajar tinggi jika siswa menghabiskan waktu yang cukup untuk kegiatan belajar.
3.        Usaha, siswa mempunyai motivasi belajar tinggi jika mereka belajar secara intensif, mengeluarkan banyak energi dan kemampuan untuk menyelesaikannya.
4.        Irama perasaan, siswa mempunyai motivasi belajar tinggi jika siswa merasa gembira, mempunyai keyakinan diri dan tegar pada situasi yang ada.
5.        Eksistensi, motivasi belajar dapat ditandai dengan melakukan kegiatan belajar pada jam-jam bebas belajar atau istirahat.
6.        Penampilan, motivasi belajar dapat ditunjukkan dengan diselesaikannya tugas belajar.
Secara konseptual, motivasi berkaitan erat dengan prestasi atau perolehan belajar. Siswa yang tinggi motivasi belajarnya, umumnya baik prestasi belajarnya. Sebaliknya, siswa yang rendah motivasinya, rendah pula prestasi belajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, praktikan dapat menyimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu dorongan atau kekuatan yang membantu seseorang untuk belajar menuju suatu proses perubahan yang kompleks, yang terjadi di dalam diri individu dengan adanya perubahan mental dan perilaku dari negatif menjadi positif atau menjadi lebih baik, serta pebelajar akan memiliki suatu keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai yang unggul sesuai dengan tujuan belajar dan tujuan pendidikan.       
B.     Studi Kasus
1.      Studi kasus merupakan pendekatan untuk meneliti gejala sosial dengan menganalisa suatu kasus secara mendalam dan utuh. Lebih spesifik Djumhur (1975:64) mengemukakan bahwa
Studi kasus adalah teknik mempelajari siswa secara mendalam untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

2.      Dalam buku Petunjuk Pelaksanaan Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang (2007:35)
Praktik layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi adalah upaya mengenal, memahami dan menetapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya kesulitan belajar bidang studi, dengan kegiatan mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah.

3.      Bog dan dan Biklen (Ainin, 2006:68),
Studi kasus (case study) merupakan suatu rancangan penelitian yang memfokuskan pada satuan unit, seorang anak, suatu kelompok kecil, suatu sekolah atau kelas, suatu komunitas tertentu, dan suatu peristiwa.

Dari uraian di atas, praktikan dapat menyimpulkan bahwa studi kasus merupakan suatu teknik/cara untuk mempelajari siswa secara mendalam untuk dapat memahami, mengenal, dan membantu mereka dalam memecahkan masalah yang sedang mereka hadapi dengan cara mengidentifikasi, mendiagnosis, memprognosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah.
C.    Mengatasi Kesulitan Belajar dan Perhatian
Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu siswa dalam memusatkan perhatian dan mengatasi kesulitan belajar. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu siswa dalam belajar, yaitu mengawali belajar dengan berdoa, memberi stimulus kepada siswa tentang materi yang akan diajarkan, melakukan tanya jawab, mengusahakan agar perhatian, pikiran, perasaan, dan minat mereka tetap fokus terhadap materi yang dipelajari dengan menggunakan media pembelajaran, mengajak mereka untuk melihat dan menemukan hal-hal baru dalam kehidupan mereka sehari-hari sesuai dengan materi yang sedang dipelajari, serta membantu menyelesaikan problem dan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi siswa baik sebelum maupun sesudah proses belajar mengajar.
Selain itu, dapat pula dengan membuat ringkasan dari materi yang telah diajarkan seperti: membuat skema/bagan yang menarik dan jelas, menggunakan huruf besar dan huruf tebal, atau dengan mewarnai dan menggarisbawahi bagian-bagian yang penting.     
D.    Strategi Belajar Mengajar dan Penilaian
Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar karena guru merupakan fasilitator dalam menyampaikan suatu ilmu pengetahuan dan juga dalam mendidik siswanya. Begitu pula dengan siswa yang merupakan pelaku/objek yang melakukan kegiatan belajar dan menerima suatu ilmu untuk membentuk selfconcept bagi dirinya sendiri.
Mengajar adalah usaha untuk menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar secara optimal. Dan untuk menciptakan suatu lingkungan belajar yang terarah, menyenangkan, serta bermakna, maka harus ada komponen-komponen yang mendukung proses belajar mengajar tersebut, antara lain: tujuan pengajaran, guru, peserta didik, materi pembelajaran, metode pengajaran, media pembelajaran, administrasi, serta finansial.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengajaran akan dapat tercapai dan berhasil apabila kualitas pengajarannya tinggi dan sesuai dengan konteks kehidupan yang dialami oleh siswanya.
Di dalam proses belajar mengajar, guru juga melakukan proses evaluasi atau penilaian untuk mengumpulkan informasi tentang kompetensi siswa dalam kegiatan belajar mengajar secara menyeluruh, kontinu, objektif, dan membimbing, yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa untuk memperbaiki kekurangan serta mempertahankan dan mengembangkan aspek-aspek yang sudah baik. Menilai dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk.      
E.     Bimbingan dan Konseling
1.        Pengertian Bimbingan dan Konseling
a.    PP No. 28 dan No. 29 Tahun 1990 dan PP No. 72 Tahun 1991 pada dasarnya mengemukakan bahwa
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan (Prayitno, 1999:66).

b.    Partowisastro (1992:12) menyatakan bahwa
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang agar memperkembangkan potensi-potensi yang dimiliki, mengenali dirinya sendiri, mengatasi persoalan-persoalan sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain.

c.    Donald G. Mortenson dan Alan M. Schmuller dalam bukunya yang berjudul “Guidance in Today’s School” (Sukardi, 1984:12) mengartikan
Konseling sebagai suatu proses hubungan seorang dengan seorang, dimana yang seorang dibantu oleh orang lainnya untuk meningkatkan pengertian dan kemampuannya dalam menghadapi masalahnya.

d.   Herbert M. Murks, Jr. & Bufford Stefflre (Sukardi, 1984:13), merumuskan
Konseling sebagai suatu proses yang learning-oriented atau suatu proses yang berorientasikan belajar, yang dilaksanakan dalam suatu lingkungan sosial, antara seorang dengan seorang, dimana seorang konselor harus memiliki kemampuan profesional dalam bidang keterampilan dan pengetahuan psikologis. Konselor berusaha membantu klien dengan metode yang sesuai atau cocok dengan kebutuhan klien tersebut dalam hubungannya dengan keseluruhan program, agar supaya individu dapat mempelajari lebih baik tentang dirinya sendiri, belajar bagaimana memanfaatkan pemahaman tentang dirinya untuk memperoleh tujuan-tujuan hidup yang lebih realistis, sehingga klien dapat menjadi anggota masyarakat yang berbahagia dan lebih produktif.

e.    Pepinsky and Pepinsky,1954 dalam bukunya yang berjudul “Counselling Theory and Practise” (Sukardi, 1984:14), mengemukakan bahwa
Konseling adalah suatu proses interaksi yang (a) terjadi antara dua orang individu yang disebut konselor dan klien, (b) terjadi dalam situasi yang bersifat pribadi (profesional), (c) diciptakan dan dibina sebagai suatu cara untuk memudahkan terjadinya perubahan-perubahan tingkah laku klien, sehingga ia memperoleh keputusan yang memuaskan kebutuhannya.

f.     Dalam SK Mendikbud No. 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya menyatakan bahwa
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku (Prayitno, 1999:10).

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa layanan bimbingan siswa adalah suatu proses pemberian bantuan secara terus-menerus dan sistematis dari seorang pembimbing (konselor) kepada yang dibimbing (klien) baik secara perorangan maupun kelompok untuk mencapai kemandirian dan perkembangan yang optimal dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku, serta  membantu dalam pengambilan keputusan terhadap masalah yang mereka hadapi.
2.        Fungsi Layanan Bimbingan Siswa  
Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui palaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi-fungsi tersebut antara lain (Prayitno, 1999:68).
1.        Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.
2.        Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
3.        Fungsi pengentasan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik.
4.        Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.
Sedangkan menurut kurikulum 1975 (Gunawan, 1987:45), fungsi bimbingan dapat dibedakan menjadi:
1.        Fungsi penyaluran, yang membantu siswa untuk memilih jurusan, lanjutan sekolah, atau memilih kegiatan-kegiatan kurikuler lainnya.
2.        Fungsi adaptasi, yang memberikan bantuan kepada staf sekolah untuk mengadaptasikan pengajaran dengan kemampuan, minat, dan kebutuhan para siswa.
3.        Fungsi penyesuaian, yang memberikan bantuan kepada siswa untuk memperoleh penyesuaian pribadi dan memperoleh kemajuan dalam perkembangannya secara optimal.
3.        Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan di sekolah, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Di bawah ini beberapa prinsip bimbingan yang telah disetujui oleh banyak ahli bimbingan, antara lain:
1.        Bimbingan memberi perhatian utama dan sistematis terhadap perkembangan pribadi setiap individu.
2.        Cara utama bimbingan dilaksanakan tergantung pada proses perilaku individu. Hal ini disebabkan perhatian bimbingan terhadap perkembangan pribadi. 
3.        Bimbingan berorientasi pada kerja sama antara konselor dan konseli tanpa adanya paksaan. Siswa tak dapat dipaksa untuk diserahkan kepada petugas bimbingan.
4.        Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya. Menacker menyarankan agar konselor percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri.
5.        Bimbingan didasarkan pada pengakuan terhadap martabat dan nilai individu sebagai manusia, sama seperti hak individu itu untuk menentukan pilihannya sendiri.
6.        Bimbingan adalah proses pendidikan yang kontinyu. Bimbingan seharusnya dimulai dari sekolah dasar sampai dengan selesai sekolah atau sepanjang hidup manusia (Gunawan, 1987:51).
4.        Asas-asas Bimbingan dan Konseling
Penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan, juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan sebagai berikut.
1.        Asas kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain.
2.        Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta didik (klien) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya.
3.        Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak pura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.
4.        Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan.
5.        Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri.
6.        Asas kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang.
7.        Asas kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (klien) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8.        Asas keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadukan.
9.        Asas kenormatifan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma-norma yang ada, yaitu norma-norma agama, hokum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku.
10.    Asas keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.
11.    Asas alih tangan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) mengalih-tangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli.
12.    Asas tut wuri handayani, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju (Prayitno, 1999:71-75).

BAB III
IDENTIFIKASI KASUS


A.    Identitas Anak
1.      Identitas Siswa
a.       Nama siswa                 : 
b.      Kelas                           : 
c.       Jenis kelamin               : 
d.      Tempat/tanggal lahir   : 
e.       Alamat asal                 : Ponorogo- Mojokerto
f.       Alamat sekarang         : 
g.      Suku bangsa                : Indonesia
h.      Agama                         : Islam
i.        Kedudukan anak         : anak ke 2 dari 3 saudara
j.        Status anak                  : 
2.      Ayah dari siswa yang bersangkutan
a.       Nama lengkap             :
b.      Tempat/tanggal lahir   :
c.       Alamat asal                 : Mojokerto
d.      Suku bangsa                : Indonesia
e.       Agama                         : Islam
f.       Pendidikan terakhir     : SLTP/ Sederajat
g.      Pekerjaan                     : Karyawan/ Swasta
3.      Ibu dari siswa yang bersangkutan
a.       Nama lengkap             :
b.      Tempat/tanggal lahir   :
c.       Alamat asal                 : Ponorogo
d.      Suku bangsa                : Indonesia
e.       Agama                         : Islam
f.       Pendidikan terakhir     : SLTP/ Sederajat
g.      Pekerjaan                     : Ibu Rumah Tangga
4.      Wali dari siswa yang bersangkutan
a.       Nama lengkap             :
b.      Tempat/tanggal lahir   :
c.       Alamat asal                 :
d.      Suku bangsa                : Indonesia
e.       Agama                         : Islam
f.       Pendidikan terakhir     : SLTP/ Sederajat
g.      Pekerjaan                     : Karyawan/ Swasta
5.      Pendidikan saudara siswa
No
Sekolah
Tahun Lulus
Tempat Sekolah
Keterangan
1.
SMK Telkom

Jombang

2.
Belum Sekolah



3.




6.      Pendidikan siswa
a.       Asal sekolah sebelum memasuki sekolah ini:  MTsN Jetis Ponorogo
b.      Riwayat sekolah Anda mulai dari TK:
No
Sekolah
Tahun Lulus
Tempat Sekolah
Keterangan
1.
Tk Dharma Wanita

Ponorogo

2.
SDN Bajang

Ponorogo

3.
MTsN Jetis

Ponorogo

4
SMK TELKOM DU

Jombang

B.     Riwayat Anak
1.      Pendidikan siswa
a.       Asal sekolah sebelum memasuki sekolah ini:  MTsN Jetis Ponorogo
b.      Riwayat sekolah Anda mulai dari TK:
No
Sekolah
Tahun Lulus
Tempat Sekolah
Keterangan
1.
Tk Dharma Wanita

Ponorogo

2.
SDN Bajang

Ponorogo

3.
MTsN Jetis

Ponorogo

4
SMK TELKOM DU

Jombang

2.      Tidak Pernah tidak naik kelas
3.      Tidak Pernah tidak lulus ujian:
4.      Sebelum masuk SMK, Siswa tidak mengetahui tentang SMK TELKOM DU REJOSO
5.      Siswa Masuk Sekolah SMK TELKOM dikarenakan adanya dorongan dari orang tua sehingga siswa terpaksa menuruti.
6.      Dan siswa Mengambil Program Multimedia Dikarenakan dorongan dari orang tua sehingga secara langsung memaksakan kehendak siswa untuk tetap harus mengikuti orang tua.
7.      Siswa berencana setelah lulus untuk melanjutkan keperguruan tinggi Poltek Malang
8.      Siswa menyukai pekerjaan menulis, karena dengan menulis, siswa bisa mencurahkan semua yang siswa alami. Dan siswa mencita-citakan ingin menjadi Dirut dalam suatu perusahaan.
9.      Siswa mencita-citakan untuk menjadi atlet bola volly
10.  Kegiatan Ekstrakulikuler yang di sukai siswa adalah volly
11.  Menurut siswa, kesulitan yang akan timbul dalam menggapai cita-cita adalah adanya pertentangan keinginan dan harapan orang tua.
C.    FASILITAS DAN KEBIASAAN BELAJAR SISWA / KLIEN
12.  Siswa Memiliki Tempat belajar sendiri, akan tetapi keadaan tempat belajar pun dirasa kurang oleh siswa dikarenakan fasilitas dan tempat yang kurang strategis.
13.  Kebiasaan siswa belajar ketika menjelang ada ulangan saja.
14.  Ketika belajar siswa dibantu oleh kakak kelas dan teman-teman asramanya
15.  Siswa hanya menyempatkan waktu belajar hanya kurang dari 1 jam saja
16.  Siswa mengikuti kegiatan yang ada di asrama pada waktu diluar jam sekolah.
17.  Hobi yang diminati siswa adalah bermain voly atau olahraga yang menyenangkan
18.  Pelajaran keterampilan siswa yang dipilih adalah A3D dan A2D
19.  Siswa saat ini sedang tinggal di asrama DU (pondok pesantren) dan sedang mendalami agamanya.
20.  Perabot yang ada Diasrama: Meja, Almari Pakaian, dll
21.  Bangunan tempat tinggal siswa di asrama dari tembok
22.  Penerangan di asrama siswa cukup
23.  Jarak dari asrama ke sekolah sekitar 0.5 km
24.  Transportasi ke sekolah dengan jalan kaki
25.  Sarana belajar yang Anda miliki:  Alat tulis, Meja belajar, Buku paket, Buku perlengkapan lainnya.
26.  Siswa mempunyai teman asramanya belajar di Asramanya
D.    DATA LINGKUNGAN SOSIAL
1.        Dorongan Orang Tua Untuk Belajar : Tidak/dikarenakan siswa jauh dari orang tua (Mondok)
2.        Suasana DiAsrama : Mendukung
3.        Sikap Terhadap guru : Menghormati dan kadang acuh terhadap pelajaran yang disampaikan
4.        Sikap Terhadap pelajaran : kadang-kadang acuh seperti tidak ada motivasi sama sekali
5.        Sikap Terhadap Teman : Baik/ penghibur teman yang sedih
6.        Bersikap Pemalu : Kadang
7.        Bersikap Pendiam : Kadang
8.        Cara Belajar : Menyendiri




BAB IV
PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING




Layanan bimbingan siswa ini merupakan upaya untuk mengenal, memahami, menetapkan, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Pemberian bantuan terhadap siswa ini dapat berupa layanan konseling, bimbingan atau pengarahan yang diberikan kepada klien demi kebaikan siswa di masa yang akan datang. Dalam kegiatan layanan bimbingan siswa ini, praktikan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : (1) identifikasi masalah, (2) analisa data, (3) sintesa, (4) diagnosa, (5) prognosa, (6) treatment (pemberian bantuan), dan (7) follow up (tindak lanjut)
Mengidentifikasi kasus bertujuan untuk menentukan siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar dan memerlukan bantuan/penanganan untuk meningkatkan motivasi/hasil belajarnya. Dalam mengidentifikasi masalah, praktikan berusaha untuk mencari informasi yang berkaitan dengan klien agar dapat menentukan letak kesulitan maupun masalah-masalah yang sedang dihadapi klien.
A.      Analisa Data
Analisa data dilakukan terhadap semua data yang telah dikumpulkan melalui beberapa instrumen, yang kemudian diklasifikasikan berdasarkan teknik dan instrument pengumpulannya. Melalui analisa data ini, diharapkan dapat mengetahui secara rinci permasalahan yang sedang dihadapi oleh Siswa, dimana hasilnya nanti akan digunakan untuk membuat diagnosis masalah Siswa.
1.      Hubungan Siswa dengan Keluarga dan Orang Lain
Hubungan antara Siswa dengan keluarganya Sangat buruk terutama dengan ayah tirinya. Dan dikarenakan Siswa Jauh dari orang tua karena sekarang masih “mondok” maka ada sedikit terputusnya komunikasi orangtua dengan siswa. Begitu pula hubungan klien dengan saudara tirinya yang kurang begitu dekat karena klien merasa bahwa saudaranya lebih disayang dari pada client. Dan Klient tinggal di asramanya hingga sekarang masih kesulitan dalam mencari teman yang benar-benar dapat dipercaya.   
2.      Keadaan Tempat Tinggal Siswa
Klien tidak tinggal bersama keluarganya melainkan tinggal di pondok pesantren Darul Ulum Asrama2 Rejoso Peterongan Jombang.


3.      Riwayat Pendidikan Siswa
Menurut hasil wawancara dan angket, klien sama sekali tidak tahu tentang SMK TELEKOMUNIKASI DU dan bahkan tidak pernah merencanakan untuk masuk atau sekolah. Klien mengetahui informasi tentang SMK TELEKOMUNIKASI DU REJOSO dari orangtua client, kemudian menuruti orangtua untuk sekolah di SMK TELEKOMUNIKASI DU tersebut dengan alasan karena orangtua ingin klien mendapatkan pelajaran agama di samping pelajaran umum. Status klien di SMK TELEKOMUNIKASI DU adalah sebagai siswa dan sekaligus sebagai santriwati di Pondok Pesantren Darul ulum.
Di samping klien juga sering mengalami kesulitan dalam belajar sehingga menghalangi cita-cita klien untuk berprestasi. Klien sangat tidak menyukai pelajaran matematika dan fisika karena dianggap sulit oleh klien..
4.      Sarana dan Prasarana Belajar
Jarak antara pondok dan sekolah sangat dekat sehingga klien cukup berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Dan biaya hidup di Jombang ini seluruhnya ditanggung oleh orang tua siswa yang dikirimkan langsung kepada klien. Klien tidak memiliki sarana belajar sendiri/khusus, dan buku diktat yang dimiliki siswa untuk menunjang prestasi belajarnya juga tidak lengkap.
Hasil Observasi :
Hasil data observasi berupa pengamatan secara langsung terhadap pola tingkah laku klien di lingkungan sekolah, antara lain :
1.      Di dalam kelas klien cenderung sering emosi.
2.      Klien kurang bersemangat dalam belajar dan tidak memperhatikan pelajaran.
3.      Klien mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan dan kurang percaya diri.
4.      Klien merupakan orang yang tertutup dan sulit untuk diajak komunikasi dan cuek.
Hasil Wawancara :
Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan keadaan dan permasalahan yang sedang dihadapi klien. Teknik wawancara juga dimaksudkan untuk menjalin hubungan yang erat dan akrab dengan klien, sehingga dapat membantu klien dalam mengatasi masalahnya tanpa ada hambatan.
Wawancara dilakukan dalam suasana yang akrab agar klien mempunyai kesempatan yang lebih banyak dan leluasa untuk mengungkapkan masalahnya. Wawancara dapat dilakukan di sekolah pada saat jam pelajaran, saat istirahat, atau saat jam pelajaran berakhir.
Data yang diperoleh dari wawancara pada dasarnya memunculkan masalah antara lain klien merasa kesulitan dalam memotivasi diri sendiri untuk belajarnya.. kurangnya motivasi dalam belajar, kurangnya rasa percaya diri, sikap klien yang mudah putus asa dalam menghadapi setiap masalah, serta sikap tertutup klien, menjadikan klien tidak dapat mengembangkan potensinya dan menjadi lebih baik.
1.        Masalah Keluarga dan Kehidupan Ekonomi Klien
¬  Keluarga
a.    Klien adalah anak kedua dari 3 bersaudara
b.    Klien selalu bertengkar dengan kelaurganya terutama ayah tirinya
c.    Klien merasa kurang senang berada di rumah
¬  Ekonomi
a.  Klien merasa tidak puas dengan keadaan hidupnya yang sekarang
2.        Masalah Agama dan Moral Klien
a.    Klien kurang merasakan manfaat beragama
3.      Masalah Hubungan Sosial dan Berorganisasi
a.    Klien merasa bingung bila berhadapan dengan orang banyak
b.    Klien tidak berminat pada organisasi
c.    Klien selalu gagal dalam usaha mencari teman
4.        Masalah Rekreasi/Hobi dan Penggunaan Waktu
a.    Klien lebih suka buku hiburan daripada buku pelajaran
b.    Klien tidak dapat menggunakan waktu luang dengan baik
c.    Waktu klien banyak terpakai untuk melakukan hobi/keinginannya
5.      Masalah Penyesuaian Terhadap Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran
a.     Klien merasa pelajaran di sekolah terlalu berat
b.    Klien merasa kesulitan dalam mengerti isi buku pelajaran
c.     Klien merasa kesulitan dalam menangkap dan mengikuti pelajaran
d.    Klien merasa enggan membaca buku di perpustakaan
e.     Pelajaran yang bersifat hitungan sangat sulit bagi klien
f.     Klien sering mendapat angka rendah
g.    Bahan pelajaran sulit diingat oleh klien
h.    Ada beberapa pelajaran yang tidak klien senangi
i.      Klien tidak memperhatikan pelajaran tertentu karena kepribadian gurunya yang tidak klien senangi
j.      Klien suka meremehkan mata pelajaran tertentu/menganggapnya tidak perlu
k.    Di dalam kelas klien sering ramai sendiri/ bercanda dengan teman
6.       Masalah Kegiatan Belajar di Asrama
a.    Klien belajar kalau ada ulangan
b.    Klien belajar tidak teratur waktunya
c.    Klien tidak suka belajar/malas belajar
d.   Klien sukar memusatkan pikiran waktu belajar
e.    Klien sulit mengingat pelajaran yang sudah dihafalkan
f.     Klien tidak dapat menerapkan cara belajar yang baik
g.    Klien belajar dengan cara membayangkan atau diingat-ingat saja
h.    Klien sering menyalin pekerjaan teman
i.      Klien sering mengantuk kalau belajar
j.      Klien suka mengulur-ulur waktu untuk belajar
k.    Klien kesulitan untuk memulai belajar
7.      Masalah Masa Depan yang Berhubungan dengan Jabatan
a.    Klien berkeinginan kerja setelah lulus Dari SMK Telkom
b.    Klien bingung untuk menentukan pilihan setelah lulus dari SMK Telkom karena adanya dorongan orangtua agar client melanjutkan ke perguruan tinggi/universitas
c.    Cita-cita klien tidak sesuai dengan keinginan orangtua
8.      Masalah Muda Mudi dan Asmara
a.    Klien mulai tertarik dengan lawan jenis
b.    Klien sering mencampuradukkan masalah pribadinya dengan masalah yang ada di sekolahnya
A.      Diagnosis Kasus
Diagnosis merupakan suatu usaha untuk memahami masalah yang sedang dihadapi klien. Tujuan diagnosis adalah untuk mengetahui lokasi kesulitan klien, jenis kesulitan klien, dan latar belakang kesulitan klien.
Dalam melakukan diagnosis diperlukan data-data siswa kasus (klien) yang ditempuh dengan menggunakan metode analisis, wawancara, observasi, dan angket. Prosedur yang dilakukan adalah menetapkan lokasi kesulitan klien, menetapkan jenis kesulitan klien, dan mengetahui latar belakang kesulitan klien.
Berikut dipaparkan hasil diagnosis atas data klien.
1.      Lokasi Kesulitan Klien
Berdasarkan data yang telah disintesa, dapat diketahui lokasi kesulitan yang dihadapi klien. Secara umum, lokasi kesulitan siswa dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yaitu : masalah pribadi klien, masalah keluarga dan kehidupan ekonomi, masalah sosial, masalah penyesuaian diri/adaptasi, dan masalah kegiatan belajar.      
2.      Jenis Kesulitan Klien
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan melalui berbagai teknik yang telah diidentifikasi dan dianalisis, dapat diketahui jenis masalah yang dihadapi klien sebagai berikut.
a.    Pribadi Klien
·      Klien sering merasa iri hati dan curiga terhadap orang lain
·      Klien merasa rendah diri
·      Klien ingin lebih menarik dan unggul dari teman yang lain
·      Klien sering menyesali diri sendiri
·      Klien merupakan orang yang bersifat tertutup
·      Klien adalah orang yang mudah marah dan sering tidak sabar
·      Klien adalah orang yang tidak dapat menerima kritik dan mudah tersinggung
·      Klien sering merasa cemas bila ada ulangan
b.    Masalah Keluarga dan Kehidupan Ekonomi Klien
¬  Keluarga
·       Klien adalah anak kedua dari tiga bersaudara
·       Klien selalu bertengkar dengan keluarganya terutama ayahnya
·       Klien merasa kurang senang berada di rumah
¬  Ekonomi
·      Klien merasa tidak puas dengan keadaan hidupnya yang sekarang
c.    Masalah Agama dan Moral Klien
·      Klien kurang merasakan manfaat beragama
d.   Masalah Hubungan Sosial dan Berorganisasi
·      Klien merasa bingung bila berhadapan dengan orang banyak
·      Klien tidak berminat pada organisasi
·      Klien selalu gagal dalam usaha mencari teman
·      Klien sering dibenci teman-teman di sekolah
e.    Masalah Penyesuaian Terhadap Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran
·      Klien merasa pelajaran di sekolah terlalu berat
·      Klien merasa kesulitan dalam mengerti isi buku pelajaran
·      Klien merasa kesulitan dalam menangkap dan mengikuti pelajaran
·      Klien merasa enggan membaca buku di perpustakaan
·      Pelajaran yang bersifat hitungan sangat sulit bagi klien
·      Klien sering merasa khawatir kalau mendapat giliran maju
·      Klien sering mendapat angka rendah
·      Bahan pelajaran sulit diingat oleh klien
·      Ada beberapa pelajaran yang tidak klien senangi
·      Klien tidak memperhatikan pelajaran tertentu karena kepribadian gurunya yang tidak klien senangi
·      Klien suka meremehkan mata pelajaran tertentu/menganggapnya tidak perlu
·      Di dalam kelas klien sering ramai sendiri/bercanda dengan teman
f.     Masalah Kegiatan Belajar
·      Klien belajar kalau ada ulangan
·      Klien belajar tidak teratur waktunya
·      Klien tidak suka belajar/malas belajar
·      Klien sukar memusatkan pikiran waktu belajar
·      Klien sulit mengingat pelajaran yang sudah dihafalkan
·      Klien tidak dapat menerapkan cara belajar yang baik
·      Klien belajar dengan cara membayangkan atau diingat-ingat saja
·      Klien sering menyalin pekerjaan teman
·      Klien sering mengantuk kalau belajar
·      Klien suka mengulur-ulur waktu untuk belajar
·      Klien kesulitan untuk memulai belajar
3.      Latar Belakang Kesulitan Klien
a.       Masalah Keluarga dan Kehidupan Ekonomi Klien
Latar belakang masalah keluarga klien adalah klien merasa kurang senang berada di rumah dan selalu bertengkar dengan keluarganya terutama ayahnya, dikarenakan klient menganggap ayahnya pilih kasih terutama pada adiknya yang termasuk anak kandung dari ayah tirinya. Sedangkan latar belakang masalah kehidupan ekonomi klien adalah klien merasa tidak puas dengan keadaan hidupnya yang sekarang.
  1. Masalah Agama dan Moral Klien
Latar belakang masalah agama dan moral klien adalah klien kurang merasakan manfaat beragama sehingga dia menjadi anak yang malas beribadah.
  1. Masalah Hubungan Sosial dan Berorganisasi
Latar belakang masalah sosial klien adalah klien kurang dapat bersosialisasi dengan teman maupun lingkungannya karena klien merupakan orang yang sangat tertutup dan minder/kurang percaya diri, dia juga sering dijauhi teman-temannya karena sifatnya yang selalu ingin berkuasa.
  1. Masalah Penyesuaian Terhadap Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran
Latar belakang masalah penyesuaian diri klien terhadap kurikulum dan kegiatan pembelajaran adalah klien merasa kesulitan dalam menerima dan mengerti pelajaran, serta merasa bahwa pelajaran di sekolah terlalu berat dan membosankan. Klien juga kurang bersemangat dalam belajar sehingga sering mendapat nilai rendah. 
  1. Masalah Kegiatan Belajar
Latar belakang masalah kegiatan belajar adalah klien malas untuk belajar dan belajar kalau ada ulangan, sering mengulur-ulur waktu belajar, tidak dapat memusatkan pikiran pada saat belajar dan hanya membayangkan atau mengingat-ingat saja materi pelajaran. Karena itu, dia tidak dapat menerapkan cara belajar yang baik karena kurang adanya motivasi belajar dalam diri klien.
Jadi Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, diketahui bahwa klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan kedisiplinan dan motivasi belajarnya, konsentrasi belajar yang kurang, dan sikap tertutup klien yang menghalangi klien untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
B.       Prognosa
Prognosis adalah suatu tahap meramalkan kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan permasalahan klien atau suatu langkah pemberian layanan bimbingan kepada klien yang berupa penetapan pemberian jenis atau teknik bantuan yang dapat diberikan kepada klien. Hal ini diperlukan untuk merubah keadaan yang lebih positif dapa diri klien. Prognosa ditetapkan berdasarkan hasil diagnosa yang telah dilakukan untuk memprediksikan kemungkinan yang dihadapi klien apabila masalahnya tidak teratasi. Dan atas dasar inilah akan ditetapkan alternatif-alternatif bantuan atau pertolongan, karena kemungkinan yang terjadi jika klien terus berlarut-larut dalam permasalahan yang merugikan, terutama dalam mencapai prestasi belajar dan juga masa depannya maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan klien. Dan atas dasar inilah akan ditetapkan alternatif-alternatif bantuan atau pertolongan karena apabila tidak segera dibantu, maka :
1.  Klien akan merasa percuma mengikuti pelajaran karena kurang adanya motivasi dan tidak dapat konsentrasi.
2.        Klien akan tertinggal pelajaran yang akan mengakibatkan prestasi klien semakin merosot dan terancam tidak akan naik kelas.
3.    Potensi yang dimiliki klien tidak dapat berkembang secara optimal dan akan semakin malas untuk belajar.
4.        Klien akan semakin tidak percaya diri, selalu pesimis bahwa dia tidak bisa berprestasi, serta akan tetap bersikap tertutup kepada orang lain.
5.        Klien akan merasa tertekan/depresi karena tidak nyaman dengan lingkungannya di kelas.
Berdasarkan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi klien pada diagnosa di atas, maka jenis bantuan yang dapat diberikan kepada klien adalah :
1.        Bantuan penyuluhan
2.        Rimidial Teaching
3.        Bimbingan belajar pribadi dan sosial
4.  Membantu menemukan seseorang yang dapat dipercaya sebagai tempat curhat seperti teman dekat/sahabat.
5.        Memberikan motivasi kepada klien.
Apabila masalah yang dihadapi klien dapat segera diatasi, maka kemungkinan yang akan terjadi pada klien adalah :
1.        Klien akan lebih semangat dan konsentrasi dalam belajar.
2.      Klien akan dapat mengejar pelajaran yang tertinggal, sehingga dapat meningkatkan prestasinya serta bisa naik kelas.
3.        Potensi yang ada dalam diri klien akan dapat berkembang secara optimal sehingga akan membuat klien semakin rajin belajar.
4.   Klien akan menjadi semakin percaya diri dan selalu optimis dalam meraih prestasi, serta akan lebih terbuka kepada orang lain.
5.        Klien akan lebih nyaman di kelas karena memiliki banyak teman dan orang-orang yang dia percaya.
C.      Treatment (pemberian bantuan)
Treatment  adalah bantuan yang diberikan kepada klien sesuai dengan jenis dan latar belakang masalah yang dihadapi klien. Treatment atau pemberian bantuan ini bertujuan untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapi klien sehingga klien dapat kembali belajar dengan baik dan mencapai hasil yang optimal, serta penyesuaian yang sehat.
Pemberian bantuan dilakukan dengan cara pendekatan individual dan pelimpahan kepada ahli yang sesuai dengan bidangnya. Pemberian bantuan hanyalah memberi alternatif pemecahan masalah bukan sebagai satu-satunya cara memecahkan masalah, karena sebenarnya yang harus mengambil keputusan dalam masalahnya adalah siswa yang bersangkutan atau klien itu sendiri.
Pemberian bantuan merupakan suatu langkah tindak lanjut dari kegiatan prognosis. Langkah-langkah yang ditempuh meliputi identifikasi masalah klien, perencanaan pemberian bantuan, dan pelaksanaan pemberian bantuan.
Kegiatan Pemberian Bantuan, antara lain :
1.    Memberikan bimbingan tentang belajar yang baik dengan harapan agar klien memiliki sikap disiplin dalam belajar dan menyadari akan pentingnya belajar yang baik dengan membuat jadwal kegiatan belajar dengan baik.
2. Memberikan informasi tentang penggunaan waktu luang yang baik dengan harapan agar klien dapat mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif.
3.  Pemberian motivasi kepada klien, yaitu dengan memberikan dorongan dan membesarkan hati klien untuk lebih percaya diri terhadap semua usaha yang akan dan telah dilakukannya demi kemajuan diri klien, terutama dalam menumbuhkan semangat klien untuk belajar dan berprestasi.
4.  Rimidial Teaching yang diberikan kepada siswa untuk mata pelajaran yang dianggap sulit dan kurang disukai klien, yang meliputi : bimbingan, memberikan soal-soal latihan, memberikan wawasan akan pentingnya sebuah catatan yang rapi dan teratur, serta menganjurkan untuk mengikuti pelajaran tambahan (les) untuk bidang studi yang dirasa sulit.
5.  Bimbingan pribadi dan sosial atau kelompok, yaitu dengan memberikan penjelasan tentang keuntungan belajar bersama/kelompok, serta menyarankan kepada klien untuk lebih aktif dalam kegiatan ekstra di sekolah.
6.   Memberikan sedikitnya waktu luang untuk klien agar bisa mencurahkan hatinya. Agar bisa menghilangkan sedikit banyaknya kepeningan yang ada didalam dirinya
D.      Follow Up (tindak lanjut)
Follow up atau tindak lanjut adalah kegiatan yang dilakukan setelah bimbingan untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha pemberian bantuan yang telah dilakukan kepada klien di dalam mengatasi kesulitan belajar dan memotivasi klien. Prosedur tindak lanjut, antara lain: mengamati kegiatan belajar klien baik di dalam maupun di luar kelas, melakukan wawancara dengan guru bidang studi dan klien, serta melihat hasil belajar siswa dengan cara melihat perbandingan nilai raport siswa sebelum dan sesudah diadakannya layanan bimbingan.    
Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam tindak lanjut adalah sebagai berikut :
1.        Melakukan interview/wawancara dengan klien tentang kemajuan prestasinya dan menanyakan apakah masih ada masalah lain yang mengganggu kegiatan belajarnya.
2.        Melakukan observasi terhadap kegiatan klien di sekolah.
3.        Melakukan pendekatan kepada klien agar lebih akrab serta mendampinginya pada saat mata pelajaran tertentu yang dianggap sulit.
4.   Mencoba untuk mengajaknya berbicara dan bercanda untuk menghilangkan rasa minder serta sifat tertutup klien.
5.   Memberikan soal-soal latihan mata pelajaran untuk mengetahui tingkat kemampuannya dalam mata pelajaran tersebut serta menumbuhkan rasa suka terhadap pelajaran.
Dari beberapa langkah tindak lanjut yang dilakukan oleh praktikan di atas, sudah mulai tampak perkembangan perubahan sikap dalam diri klien meskipun belum secara maksimal karena untuk dapat mengetahui keberhasilan siswa dengan permasalahan yang ada diperlukan waktu yang cukup lama. Namun ada beberapa perubahan sikap yang positif dalam diri klien seperti : klien sudah mulai terbuka dan mau berbicara atau bercanda dengan orang-orang di sekitarnya, mulai tumbuhnya semangat belajar dalam diri klien terutama dalam mata pelajaran IPS, klien mulai berani untuk mengungkapkan perasaan atau masalah yang dihadapinya meski tidak seluruhnya, klien juga mulai mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya melalui hobi volinya.
Dengan adanya perkembangan perubahan perilaku klien tersebut, maka guru mata pelajaran harus banyak memberikan kesempatan kepada klien untuk lebih aktif di dalam kelas, misalnya meminta siswa maju ke depan, menjawab pertanyaan secara lisan, mendampingi serta membantu klien jika mengalami kesulitan dalam belajar, dan guru dapat menggunakan permainan atau metode-metode lain dalam mengajarkan pelajaran IPS agar siswa lebih tertarik.   









BAB V
PENUTUP



A.      Kesimpulan
Dalam dunia pendidikan, peran guru sangatlah penting dalam menentukan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Tugas guru tidaklah ringan karena disamping sebagai pendidik, mereka juga merupakan fasilitator dalam mentransfer ilmu pengetahuan, serta berkewajiban untuk membenahi sikap dan moral siswanya. Sebagai seorang guru yang profesional, tugas guru tidak hanya mengajar di kelas tetapi juga mempunyai kewajiban membantu siswa ke arah perkembangan yang optimal. Oleh karena itu guru juga harus menguasai dasar-dasar layanan bimbingan siswa.
Dari hasil kegiatan dalam memberikan layanan bimbingan siswa, maka dapat disimpulkan:
1.        Layanan bimbingan siswa adalah suatu kegiatan yang sangat penting yang harus dikuasai oleh pendidik untuk membantu siswa dalam mencapai prestasi belajar secara optimal.
2.  Layanan bimbingan siswa adalah upaya untuk mengenal, memahami, dan menetapkan klien dengan kegiatan mendiagnosa, memprognosa, dan memberikan pertimbangan pemecahannya.
3.  Studi kasus adalah suatu metode yang dilakukan oleh pendidik untuk mengenal siswanya secara mendalam serta berusaha untuk menentukan alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh siswanya.
4.    Agar dapat memberikan layanan bimbingan dengan baik, maka perlu adanya penguasaan konsep dan teknik bimbingan, serta langkah-langkah yang telah ditentukan.
5.   Untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa, maka guru harus melakukan evaluasi dan juga bekerjasama dengan berbagai pihak, antara lain klien, teman klien, wali kelas, para guru, orang tua klien, serta lembaga yang menangani masalah siswa-siswi-nya yaitu lembaga Bimbingan dan Konseling.
       
B.       Saran
Keberhasilan dari studi kasus ini tergantung pada kesadaran diri klien. Pada akhir laporan ini, praktikan merasa perlu untuk memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat dalam membantu klien, orang tua klien, guru/wali kelas, dan sekolah, yaitu :
1.        Saran untuk klien
·  Klien diharapkan lebih terbuka lagi dalam mengutarakan masalah yang sedang dihadapinya agar masalah tersebut dapat diatasi dan mendapatkan solusi untuk menyeleaikannya.
·      Klien hendaknya lebih konsentrasi dan bersemangat dalam belajar.
·      Klien hendaknya tidak minder terhadap teman-temannya.
·      Klien hendaknya tidak merasa malu atau takut untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
·      Hendaknya lebih teratur dalam belajar, tidak malas, dan tidak mengulur-ulur waktu untuk belajar.
·      Hendaknya lebih semangat dan tidak malas dalam beribadah
·      Berusaha untuk berkomunikasi dengan teman dan tidak sering menyendiri.
·      Harus menghilangkan rasa malu atau takut jika disuruh maju ke depan.
·      Klien hendaknya dapat memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang positif. 
2.        Saran untuk orang tua klien
·      Orang tua klien hendaknya lebih meluangkan waktunya untuk memperhatikan klien.
· Orang tua siswa diharapkan mempunyai kesadaran tinggi dalam mengawasi dan mengontrol perkembangan anaknya.
·      Berusaha untuk mendidik anaknya agar disiplin baik dalam belajar maupun beribadah.
·   Hendaknya lebih memahami permasalahan yang sedang dihadapi oleh anaknya dan berusaha untuk membantu menyelesaikan masalah mereka dengan memberikan motivasi atau dorongan terhadap minat belajar mereka, serta memberikan perhatian dan pengertian.
·  Selalu menjalin kerjasama dengan pihak guru, konselor, dan personil sekolah lainnya untuk mengetahui perkembangan anaknya.
3.        Saran untuk guru/wali kelas
·   Guru hendaknya memberikan perhatian khusus kepada siswa selama dia belum mampu mengatasi masalahnya
·      Hendaknya mengadakan pendekatan belajar kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar.
·  Guru hendaknya mengadakan hubungan dan kerjasama yang kontinyu dengan orang tua untuk mengetahui perkembangan belajar siswanya.
·      Memberikan motivasi agar siswa lebih semangat dalam belajar.
·  Guru hendaknya memberikan pembinaan dan pengarahan kepada siswa tentang cara-cara belajar yang efektif.
4.        Saran untuk sekolah
Program Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah hendaknya menjadi program yang terpadu dan dilakukan secara berkelanjutan dengan selalu melakukan hubungan dan kerjasama dengan orang tua siswa demi tercapainya tujuan belajar. Disamping itu, konselor harus terus memberikan layanan bimbingan belajar pada klien dengan memberikan motivasi dalam belajar serta membantu memecahkan setiap masalah yang dihadapi oleh klien agar klien mau  mengubah sikapnya dan berusaha untuk meningkatkan prestasi akademiknya.

























DAFTAR PUSTAKA

Ainin, Mochammad. 2006. Metodologi Penelitian Bahasa Arab. Pasuruan: Hilal Pustaka.
Dimyati dan Madjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djumhur, I, Moh. Surya. 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung: CV Ilmu.
Gunawan, Yusuf. 1987. Pengantar Bimbingan dan Konseling Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT Prenhallindo, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK)
Munandir. 1991. Kode Etik Jabatan Konselor. Malang: PBB IKIP Malang.
Partowisastro. 1992. Diagnosis dan Pemecahan Kesulitan Belajar. Jakarta: Erlangga.
Prayitno. 1999. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Pengantar Teori Konseling (Suatu Uraian Ringkas). Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.
Surya, Mohammad. 1988. Dasar-dasar Penyuluhan (Konseling). Jakarta: DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Susanto, Pudjo. 1999. Strategi Belajar Mengajar Biologi untuk Sekolah Menengah. Malang: FMIPA – UM.

2 komentar:

Poskan Komentar